LAPORAN PRAKTIKUM
FARMASI TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL
PEMBUATAN SALEP MATA
Nama Kelompok IV :
1.
Komarudin 15040033
2.
Kusniah Asih Rahayu 15040034
3.
Maharani Afina Yolanda 15040036
4. Laili zaharotul maulidiah 15040035
5.
Mia maulidina 15040037
SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH
JL. RAYA PEMDA TIGARAKSA KM 4 NO. 13
TANGERANG
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan
kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan Praktikum mata kuliah Farmasi
Teknologi Sediaan Steril ”Pembuatan Salep Mata” dan kami juga berterima kasih
kepada Sefi Megawati, S. Farm., M.Sc.,Apt selaku Dosen mata kuliah Farmasi
Teknologi Sediaan Seril yang telah membimbing
kami.
Kami sangat berharap laporan ini dapat berguna dan di
mengerti. Kami menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam laporan ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Untuk
itu, kami berharap adanya kritik dan saran demi
perbaikan di masa yang akan datang, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Semoga
laporan sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya dan juga bermanfaat, sebelumnya
kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan terima kasih.
Tangerang, Maret 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................ i
DAFTAR ISI ................................................................................................. ii
I.
Tujuan ........................................................................................... 1
II.
Tugas ............................................................................................... 1
III.
Dasar Teori........................................................................................ 1
IV.
Preformulasi....................................................................................... 6
V.
Formulasi ........................................................................................ 10
VI.
Data Evaluasi..................................................................................... 12
VII.
Kesimpulan......................................................................................... 14
VIII.
Wadah, Etiket, Brosur dan Kemasan................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
I.
TUJUAN
Mahasiswa dapat membuat sediaan salep mata dan
cara pengujiannya
II. TUGAS
Buatlah sediaan salep mata hidrokortison 1%
sebanyak 10 gram
III. DASAR TEORI
1.
Definisi
Menurut FI IV,
salep mata adalah salep yang digunakan pada mata, di mana sediaan dibuat dari
bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi
syarat uji steril.
Salep mata
adalah salep yang digunakan pada mata. Pada pembuatan salep mata harus
diberikan perhatian khusus. Sediaan dibuat dari bahan yang sudah disterilkan
dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji sterilitas
(Anonim, 1995, hal: 12).
Salep mata
adalah salep yang digunakan pada mata. Pada pembuatan salap mata harus
diberikan perhatian khusus.
Sediaan dibuat dari
bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik
yang ketat serta memnuhi syarat uji sterilitas. Bila bahan tertentu yang
digunakan dalam formulasi salap mata tidak dapat disterilkan dengan cara biasa,
maka dapat digunakan bahan yang yang memenuhi syarat uji sterilitas dengan
pembuatan secara aseptik. Salep mata mengandung
bahan atau campuran bahan yang sesuai untuk mecegah pertumbuhan atau
memusnahkan mikroba yang mungkin masuk secara tidak sengaja bila wadah
dibuka pada waktu aplikasi penggunaan, kecuali
dinyatakan lain dalam monografi,
atau formulanya sendiri sudah bersifat
bakteriostatik. (Goeswin, 2009)
Obat biasanya
dipakai untuk mata untuk maksud efek lokal pada pengobatan bagian permukaan
mata atau pada bagian dalamnya. Yang paling sering digunakan adalah larutan
dalam air, tapi bisa juga dalam bentuk suspensi, cairan bukan air dan salep
mata. Berbeda dengan salep dermatologi salep mata yang baik yaitu :
a.
Steril
b.
Bebas hama/bakteri
c.
Tidak mengiritasi
mata
d.
Difusi bahan obat ke seluruh mata yang dibasahi karena
sekresi cairan mata.
e.
Dasar salep harus mempunyai titik lebur/titik leleh mendekati
suhu tubuh (Ansel,1989)
Obat salep mata harus
steril berisi zat antimikrobial preservative, antioksidan, dan stabilizer.
Menurut USP XXV, salep berisi chlorobutanol sebagai antimikrobial dan perlu
bebas bahan partikel yang dapat mengiritasi dan membahayakan jaringan mata.
Sebaliknya, dari EP (2001) dan BP (2001) ada batasan ukuran partikel, yaitu
setiap 10 mikrogram zat aktif tidak boleh mengandung atau mempunyai partikel
> 90 nm, tidak boleh lebih dari 2 partikel > 50nm, dan tidak boleh lebih
dari 20,25 nm (Lukas, 2006).
2.
Keuntungan dan kerugian
Salep mata
bekerja pada kelopak mata, kelenjar sebasea, konjungtiva, kornea dan iris.
Penggunaan salep mata ini memiliki keuntungan dan kerugian diantaranya adalah:
a. Keuntungan
1)
Dapat memberikan bioavailabilitas lebih besar daripada
sediaan larutan dalam air yang ekuivalen.
2)
Onset dan waktu puncak absorbsi yang lebih lama.
3)
Waktu kontak yang lebih lama sehingga jumlah obat yang
diabsorbsi lebih tinggi.
b. Kerugian
1)
Dapat menggangu
pengelihatan, kecuali jika digunakan saat akan tidur
2)
Dari tempat kerjanya yaitu bekerja pada kelopak mata,
kelenjar sebasea, konjungtiva, kornea dan iris.
3.
Basis salep mata
Dasar salep
pilihan untuk salep mata harus tidak mengiritasi mata dan harus memungkinkan
difusi bahan obat ke seluruh mata yang dibasahi karena sekresi cairan mata.
Dasar salep mata yang digunakan juga harus bertitik lebur yang mendakati suhu
tubuh. Dalam beberapa hal campuran dari petroletum dan cairan petrolatum (minyak
mineral) dimanfaatkan sebagai dasar salep mata. Kadang-kadang zat yang
bercampur dengan air seprti lanolin ditambahkan kedalamnya. Hal ini
memungkinkan air dan obat yang tidak larut dalam air bartahan selama sistem
penyampaian (Ansel,1989).
Oculenta, sebagai
bahan dasar salep mata sering mengandung vaselin, dasar absorpsi atau dasar
salep larut air. Semua bahan yang dipakai untuk salep mata harus halus, tidak
enak dalam mata. Salep mata terutama untuk mata yang luka. Harus steril dan
diperlukan syarat-syarat yang lebih teliti maka harus dibuat saksama. Syarat
oculenta adalah:
a.
Tidak boleh mengandung bagian-bagian kasar.
b.
Dasar salep tidak boleh merangsang mata dan harus memberi
kemungkinan obat tersebar dengan perantaraan air mata.
c.
Obat harus tetap berkhasiat selama penyimpanan.
d.
Salep mata harus
steril dan disimpan dalam tube yang steril
(Anief, 2000, hal: 117).
4.
Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan dalam
Menyediakan Sediaan Salep Mata :
a.
Sediaan dibuat dari bahan yang sudah disterilkan dengan
perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji sterilitas. Bila bahan
tertentu yang digunakan dalam formulasi tidak dapat disterilkan dengan cara
biasa, maka dapat digunakan bahan yang memenuhi syarat uji sterilitas dengan
pembuatan secara aseptik. Salep mata harus memenuhi persyaratan uji sterilitas.
Sterilitas akhir salep mata dalam tube biasanya dilakukan dengan radiasi sinar
γ. (Remingthon pharmauceutical hal. 1585).
b.
Kemungkinan kontaminasi mikroba dapat dikurangi dengan
melakukan pembuatan uji dibawah LAF.
c.
Salep mata harus mengandung bahan atau campuran bahan
yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan mikroba yang mungkin
masuk secar tidak sengaja bila wadah dibuka pada waktu penggunaan. Kecuali
dinyatakan lain dalam monografi atau formulanya sendiri sudah bersifat
bakteriostatik (lihat bahan tambahan seperti yang terdapat pada uji salep mata.
d.
Wadah salep mata harus dalam keadaan steril pada waktu
pengisian dan penutupan. Wadah salep mata harus tertutup rapat dan disegel
untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. Wadah salep mata kebanyakan
menggunakan tube, tube dengan rendahnya luas permukaan jalan keluarnya menjamin
penekanan kontaminasi selama pemakaianya sampai tingkat yang minimum. Secara
bersamaan juga memberikan perlindungan terhadap cahaya yang baik.
IV. PREFORMULASI
a. Tujuan
Farmakologi Obat
1) Adeps Lanae/ Lanolin
(FI III, hal 61)
|
Lanolin adalah zat
berupa lemak yang dimurnikan diperoleh dari bulu domba yang dibersihkan dan
dihilangkan warna dan baunya. Mengandung air tidak lebih dari 0,25 %. Boleh
mengandung antioksidan yang sesuai tidak lebih dari 0.02 %. Penambahan air
dapat dicampurkan ke dalam lanolin dengan pengadukan.
|
|
|
Pemerian
|
Zat serupa lemak, liat,
lekat, kuning muda atau kuning pucat, agak tembus cahaya, bau lemah dan khas.
|
|
Kelarutan
|
Praktis tidak larut
dalam air, agak sukar larut dalam etanol (95%), mudah larut dalam kloroform
dan dalam eter.
|
|
Jarak lebur
|
Antara 36oC dan 42oC
|
|
Khasiat
|
Zat tambahan
|
|
Penyimpanan
|
Dalam wadah tertutup
baik, sebaiknya pada suhu kamar terkendali.
|
2) Paraffin Liquidum (Handbook of
Pharmaceutical Excipients)
|
Pemerian
|
Transparan, tidak
berwarna, cairan kental, tidak berfluoresensi, tidak berasa dan tidak
berbau ketika dingindan berbau ketika dipanaskan.
|
|
Kelarutan
|
Praktis tidak larut
etanol 95%, gliserin dan air. Larut dalam jenis minyak lemak hangat.
|
|
Stabilitas
|
Dapat teroksidasi oleh
panas dan cahaya.
|
|
Khasiat
|
Laksativ (pencahar),
mata kering
|
|
OTT
|
Dengan oksidator kuat
|
|
Penyimpanan
|
Wadah tertutup rapat,
hindari dari cahaya, kering dan sejuk
|
3)
Vaseline Flavum (FI III, hal 633)
|
Nama Lain
|
Petrolatum
|
|
Pemerian
|
Berwarna kuning hingga
kuning pucat, bermassa ringan, tidak berbau dan tidak berasa.
|
|
Kelarutan
|
Tidak larut dalam
aseton, ehanol panas dan digin, gliserin serta air; Larut dalam benzene,
karbon disulfit, kloroform, eter, heksane, dan minyak volatile.
|
|
Fungsi
|
Emollient, Basis
Ointment
|
|
Penyimpanan
|
Dalam wadah tertutup
rapat
|
4)
Cara
Sterilisasi bahan
|
No
|
Nama Bahan
|
Cara Sterilisasi
|
|
1
|
Adeps lanae
|
oven
400 C, 15menit
|
|
2
|
Parafin liq
|
oven
400 C, 15menit
|
|
3
|
Vaselin flavum
|
oven
400 C, 15menit
|
|
4
|
Hidrokortison
|
|
5)
Cara Penggunaan sediaan
a)
Cuci tangan
b)
Buka tutup dari tube
c)
Dengan satu tangan, tarik kelopak mata bagian
bawah perlahan-lahan
d) Sambil melihat keatas, tekan sejumlah
kecil salep kedalam kelopak mata bagian bawah (± ¼ – ½ inci). Hati-hati agar
tidak menyentuhkan ujung tube pada mata, kelopak mata, jari, dll
e)
Tutup mata dengan lembut dan putar bola mata
kesegala arah pada saat mata ditutup. Kadang-kadang pengaburan dapat terjadi
f)
Kelopak mata yang tertutup dapat digosok
dengan lembut dengan jari untuk mendistribusikan obat melalui fornix.
g)
Tutup kembali tube
·
Hati-hati untuk mencegah kontaminasi tutup
tube saat dibuka.
·
Pada saat tube salep dibuka pertama kali,
tekan keluar ¼ inci salep dan buang karena mungkin terlalu kering.
·
Jangan pernah menyentuh ujung tube dengan
permukaan apapun.
·
Jika mempunyai lebih dari satu tube untu
salep mata yang sama, buka satu tube saja.
·
Jika menggunakan lebih dari satu jenis salep
mata pada waktu yang sama, tunggu sekitar 10 menit sebelum menggunakan salep
lainnya.
·
Untuk memperbaiki aliran dari salep, pegang
tube dalam tangan selama beberapa menit sebelum digunakan.
·
Sangat bermanfaat untuk latihan menggunakan salep dengan
persis di depan cermin.
V. FORMULASI
a. Permasalahan
dan Penyelesaian
b. Formula yang
dibuat
Eye ointment basis (BPC) dan Eccipinate Per
Pomata Oftalmuche (Ph Itali)
R/ Paraffin
Liq 10
Vaselin
Plav 80
Adeps
Lanae 10
Zat aktif : Hidrocortison 1%
c. Perhitungan dan
penimbangan
Hidrokortison
1% =
×10 g = 0,1 g =100mg
Paraffin
Liq =
×10 g = 1 g + (1×
) =1,25g
Vaselin
Flavum =
×10g = 8g + (8×
) =10g
Adeps
Lanae =
×10 g =1 g + (1×
) =1,25g
Basis salep =
10 gram – 0,1 gram = 9, 9 gram
|
No
|
Nama Bahan
|
Penimbangan
|
|
1
|
Adeps Lanae
|
1,25
gram
|
|
2
|
Vaselin Flavum
|
10
gram
|
|
3
|
Parafin Liq
|
1,25
gram
|
|
4
|
Hidrokortison
|
0,1
gram
|
d. Cara Kerja
1) Cara pembuatan sediaan
Buat basis salep dilebihkan 25%
a) Timbang semua bahan basis salep
b) Masukkan ke dalam cawan yang dilapisi kassa
rangkap 2, tutup cawan dengan alumunium foil/kaca arloji
c) Sterilkan dengan menggunakan Oven suhu 170oC
selama 30 menit
d) Basis salep disaring dan aduk hingga membentuk
salep
e) Timbang basis salep sesuai dengan yang
dibutuhkan
f) Campur basis salep dengan zat aktif hingga
homogen
g) Masukkan ke tube dengan bantuan kertas
perkamen
h) Tutup tube, dan sterilkan menggunakan oven
i)
Buat kemasan dan lakukan uji (Uji ph, Uji Homogenitas,
Uji Organoleptis, Uji Viskositas).
2) Cara
Sterilisasi
Sterilisasi
Alat
Pada praktikum
pembuatan salep mata, kelompok kami
tidak melakukan sterilisasi alat dengan menggunakan oven atau autoclav tetapi
kami hanya melakukan sterilisasi tube salep dengan menggunakan alcohol 70%
selama 15 menit. Seharusnya pada saat sterilisasi tube menggunakan alkhol 70%
selama 24 jam untuk tube plastik, sedangkan pada tube yang terbuat dari besi
disterilisasi menggunakan autoclave 121 oC selama 15-30 menit, oven 160 oC selama 1 jam.
VI. DATA EVALUASI
A. Evaluasi sediaan salep mata
1.
Uji pH
a.
Kertas lakmus
biru : Berubah warna jadi merah
b.
Kertas lakmus
merah : tidak berubah warna
Sehingga dapat disimpulkan bahwa salep mata yang kami buat bersifat asam.
2.
Uji Homogenitas
Dalam pengujian
kali ini didapat salep mata yang tidak Homogen karena dalam salep mata yang
kami buat masih terdapat partikel - partikel kecil bahan yang tidak larut.
3. Uji Organoleptis
a.
Bentuk : Semi Padat
b.
Warna : putih
c.
Bau : Tidak Tengik
4.
Uji Viskositas
Tidak dilakukan,
karena untuk melakukan pengujian ini harus memiliki bobot ±50g
B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini bertujuan
untuk mengetahui cara pembuatan dan
pengujian sediaan salep mata dengan beberapa basis secara steril, oleh karena
itu hal pertama yang harus kami lakukan adalah membuat basis salep mata
terlebih dahulu, pada praktikum ini kami membuat dengan zat akif hydrocortison asetat 1%.
Proses aseptis sendiri adalah proses
pengolahan produk steril tanpa sterilisasi akhir. Berbeda dengan metode
sterilisasi akhir, metode aseptis merupakan proses perlindungan pasif dari kontaminasi,
oleh karena itu resiko kontaminasi metode aseptis lebih tinggi dari metode
sterilisasi akhir.
Hal pertama yang harus dilakukan
adalah mensterilkan semua alat yang digunakan antara lain. Cawan penguap, kaca
arloji, mortir, stamper, sendok tandu, dan tube salep disterilkan dengan menyemprotkan alcohol 70%;
Setelah mensterilkan semua alat yang akan dipakai barulah melanjutkan proses
pembuatan salep yang semuanya dilakukan di dalam ‘in case’ untuk menghindari
adanya kontaminasi.
Tahap selanjutnya adalah penimbangan
basis salep, pada tahap ini berat penimbangan dilebihkan 25%, karena setelah
sterilisasi di oven selama 30 menit dengan suhu 150°C ditakutkan sebagian basis
menempel pada kain kasa sehingga penimbangan basis dilebihkan 25%. Basis yang digunakan
adalah vaselin flavum, adeps lanae dan paraffin liq, dan untuk zat aktif salep mata ialah hidrocortison
asetat. Semua basis salep tersebut ditimbang dengan urutan basis sesuai dengan
konsistensinya yakni basis salep yang semi padat ditimbang lebih dulu baru yang
berbetuk cair supaya lebih mudah dalam penimbanganya . Setelah ditimbang dan di
sterilkan. Setelah basis siap barulah dicampur dengan zat aktif dan dimasukan
dalam tube salep steril.
Parameternya adalah homogenitas,
untuk menjamin efek obat; bentuk, bau dan warna untuk melihat apakah ada
perubahan fase; dan partikel asing untuk menjamin kenyamanan pasien. Dan dari
percobaan evaluasi praktikum ini di dapatkan hasil bentuk yang tetap semi
padat; warna, yang putih ; bau yang
tidak tengik; dan tidak homogenitas; dan masih bebas dari partikel asing. Pada
praktikum kali ini juga dilakukan uji pH dengan menggunakan stik pH Dimana didapat tingkat pH pada sediaan salep mata kami sekitar 5,5 cukup asam dimana batas normal pH salep mata yaitu pH 7.
VII. KESIMPULAN
·
Basis salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata,
memungkinkan difusi obat dalam cairan mata dan tetap mempertahankan aktivitas
obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang tepat.
·
Dari hasil uji homogenitas dengan menggunakan mikroskop
atau panca indra didapat salep sedikit mengandung partikel dan kurang homogen
· Pada pengujian pH didapat tingkat pH pada
sediaan salep mata kami sekitar 5,5 cukup asam dimana batas normal pH salep mata yaitu pH 7 / 7,4
(netral).
VIII. WADAH, ETIKET,
BROSUR DAN KEMASAN
1.
Kemasan

2.
Etiket
3.
Brosur
Brosur
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1979, Farmakope
Indonesia, edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Anonim, 1995, Farmakope
Indonesia, edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Agoes, Goeswien,
2009. Sediaan Farmasi
Steril. Bandung : Penerbit ITB
Anief, M. ( 2000). Ilmu
Meracik Obat Teori Dan Praktek. Cetakan ke- 9. Yogyakarta: Gajah Mada
University- Press.
ANSEL, Howard C. 1989. Pengantar
Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: Penerbit UniversitasIndonesia (UI-Press).
Lukas, Stefanus. 2006.
Formulasi steril. Penerbit Andi : Jakarta.
LAMPIRAN








Tidak ada komentar:
Posting Komentar